Brian, Anak Korban Tanah Longsor di Jawa Timur yang kini hidup Yatim-Piatu

Hari Sabtu ,1 April 2017, benar-benar menjadi hari yang memprihatinkan bagi warga Dusun Tangkil, Desa Banaran, Kecamatan Pulung, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur.

Mereka tidak ada yang menyangka jika  retakan tanah di bukit Gunung Gede itu akan mengubur puluhan permukiman padat penduduk bahkan menelan korban jiwa di wilayah tersebut. Hanya dengan hitungan detik, material longsor berupa tanah itu menggulung rumah warga disekitarnya.

Tak hanya melumat rumah-rumah penduduk, 28 warga juga dinyatakan hilang dan diduga tertimbun tanah. Tak heran jika warga menyebut peristiwa itu laiknya tsunami tiga detik. Banyaknya korban jiwa dalam peristiwa bencana alam ini.
Ada bapak yang kehilangan anaknya. Perempuan menjadi janda dan tidak sedikit pula anak-anak yang menjadi yatim piatu karena orang tuanya terkubur bersama puing-puing bangunan dan juga material longsor.

 Diantara tumpukan material longsor, Brian (10), menghabiskan waktu tepat sepekan persistiwa nahas itu. Deru alat berat dan ratusan relawan menjadi pemandangan menarik bagi anak seusianya. Sekadar untuk menghibur, sejenak melupakan kepedihan dalam dirinya yang kini sebatang kara.
[ads-post]
  "Selama tiga hari ini, setiap sore selalu mengajak kesini. Katanya, ingin melihat mesin (eskavator red) yang sedang mencari ibunya," kata Miswanto (25), paman Brian, saat berada di Sektor A lokasi pencarian 25 korban longsor, Minggu (09/4/2017).

 Brian, merupakan satu dari sekian banyak anak yang harus menanggung duka kedahsyatan bencana tanah longsor yang menerjang tepat saat sebagian besar orang mengawali aktifitas pagi itu.
Kedua orang tuanya, sang ayah yang bernama Poniran dan Ibunya bernama Suprapti, hilang bersamaan dengan tanah longsor yang mengubur rumahnya.

  "Waktu kejadian itu bapak ibunya sedang berada di rumah. Jadi keduanya jadi korban semua. Rumahnya juga terkubur dengan tanah, sudah habis semua," imbuh Miswanto yang terus mendampingi Brian pasca-bencana yang merenggut kedua orangtuanya itu.

 Miswanto lantas bertutur. Brian menjadi satu-satunya keluarganya yang selamat kala bencana longsor mengubur pemukiman padat penduduk di Desa Banaran itu. Saat kejadian, keponakannya itu tengah menunaikan kewajibannya belajar di sekolah.

  "Waktu kejadian, dia langsung ke rumah saya di desa sebelah naik sepeda motor. Saat sampai itu dia langsung menangis dan mengatakan kalau mak e pak e kenek (bapak ibu terkena bencana). Waktu itu saya sebenarnya sudah tahu dan baru akan ke sini," jelasnya sembari mengelus kepala keponakannya itu.

 Dikutip dari Okezone.com , meski sempat bersedih,  Brian sudah memahami jika dirinya kini tak lagi memiliki orang tua. Namun, siswa yang kini duduk dibangku kelas 4 Sekolah Dasar itu, mencoba bertahan. Meski terkadang rasa sedih kehilangan muncul dalam hatinya.

  "Sebenarnya sudah menyadari kalau orang tuanya sudah tidak ada. Hanya kalau teringat begitu, dia diam dan menyendiri. Selanjutnya menangis. Brian ini tidak pernah menanyakan kemana orang tuanya, karena memang dasarnya pemalu anaknya," ungkapnya.

 Meski demikian, Miswanto menyatakan tak akan menelantarkan keponakannya itu. Ia menjamin jika Brian akan tetap melanjutkan pendidikannya untuk meraih cita-citanya.
Miswanto mengaku akan menjadi orang tua kedua Brian, meski itu sulit diterima bocah bertubuh gempal itu.

  "Selanjutnya akan ikut saya. Kebetulan saya sudah berkeluarga. Saya sudah menganggap seperti anak saya sendiri. Nanti setelah diperbolehkan kepala desa akan saya bawa ke rumah," tandas Miswanto yang juga tak kuat menahan pilu dan terus memeluk keponakannya itu

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel