Halloween party ideas 2015

5/15/2017 11:24:00 AM
Foto:Jawa Pos

Profesi tenaga medis tercoreng. Oknum perawat Puskesmas Blega mendadak bikin heboh medis sosial (medsos). Mereka berfoto selfie dengan latar korban korban penganiayaan masih bersimbah darah yang akhirnya meninggal dunia.

Kejadian itu berawal saat Puskesmas Blega menerima pasien yang merupakan seorang kepala desa bernama  H Dhofir, pada hari Kamis ,11 mei 2017.
Kades Karang Gayam berusia 43 tahun itu meninggal karena mengalami luka bacok di beberapa bagian tubuhnya. Saat petugas menerima korban, ada perawat puskesmas yang mengabadikan momen tersebut.

Dalam foto itu terdapat empat orang. Satu korban yang sedang ditangani HT dan S. Dua orang yang lain, T dan E membelakangi mereka. Dua orang inilah yang diyakini sedang berfoto ria.

Foto tersebut kemudian cepat menyebar di medsos. Seketika itu menuai banyak komentar. Tidak sedikit yang menyayangkan kelakuan mereka.

Dinas Kesehatan (Dinkes) Bangkalan melayangkan surat teguran kepada Puskesmas Blega, Jumat (12/5). Isinya mengenai permintaan agar seluruh tenaga kesehatan di puskesmas itu dibina ulang sehingga tidak kembali berulah.


Kepala Dinkes Bangkalan Muzakki menyayangkan tindakan petugas medis tersebut. Dia sudah meminta Puskesmas Blega memberikan pembinaan kepada para petugas. Dengan begitu, tindakan tersebut tidak kembali dilakukan atau ditiru oleh petugas tenaga keperawatan lain.

”Kami sudah beri teguran sekaligus diharapkan agar dilakukan pembinaan kembali kepada seluruh petugas. Ini menyangkut nama baik dan profesionalitas tenaga medis,” terang Muzakki.

Kepala Puskesmas Blega Sudiyo menyangkal foto tersebut diambil oleh anak buahnya. Dia mengatakan, pengambil gambar dan pengunggah foto bukan petugas puskesmas. Orang itu merupakan mantan petugas berinisial T.

Orang tersebut sudah dikeluarkan sebagai petugas puskesmas sekitar setahun lalu karena indisipliner. ”Staf kami tidak melakukan itu,” terangnya.

”Masuk tanpa sepengetahuan petugas ke ruangan tempat pasien. Karena banyak kenal dengan petugas lain, makanya dia mudah masuk,” lanjut Sudiyo.

Sedangkan perempuan di sebelahnya merupakan seorang bidan berinisial E. Sudiyo memastikan, kejadian tersebut tidak akan terulang. ”Bukan petugas Puskesmas Blega. Insya Allah kami pastikan tidak terjadi lagi,” jelasnya.

Pihaknya telah mengumpulkan petugas. Petugas dalam foto itu mendapat surat panggilan I bernormor X/836/88/433.102.17/2017. Anak buahnya tersebut juga diberi surat teguran bernomor 863/92/433.102.17/2017.

Mereka diminta membuat surat pernyataan permintaan maaf dan berjanji tidak akan mengulangi. Pihaknya juga melaporkan tindakan petugas itu kepada Komite Etik Keperawatan dan Komite Etik Kebidanan Jatim.

 ”Sudah melapor kepada kepala dinkes secara langsung juga,” tutupnya.

Ketua DPD Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Bangkalan M. Hasinuddin juga mengeluarkan surat menindaklanjuti foto selfie tersebut. Dalam suratnya, dia menjelaskan tindakan perawat di puskesmas itu spontanitas. Pada saat merawat korban, T memanggil S dan HT. Sontak HT mengangkat tangan.

Dalam surat klarifikasi foto selfie tenaga kesehatan nomor 004/DPD.PPNI/S/K.S/V/ 2017 itu menyebutkan bahwa perawat yang bereaksi mengangkat tangan diberi teguran tertulis 1.

Sementara itu, kasus penganiayaan tersebut masih didalami Polres Bangkalan. M. Mahdi Muzakky, 17, sudah diamankan. Sedangkan kakaknya, M. Sulthan Sabilal Rasyad, 20, masih diburu. Mereka tega menghabisi nyawa korban karena dendam.

Kapolres Bangkalan AKBP Anissullah M. Ridha menyampaikan, pihaknya berharap Sulthan menyerahkan diri.

”Jika tidak menyerahkan atau diserahkan, kami akan mengambil tindakan tegas. Karena yang bersangkutan diinformasikan masih memegang senjata yang digunakan membunuh korban,” jelasnya.

Source :Jawa Pos

Post a Comment

recentpost
Powered by Blogger.